Agama

Kehangatan dan Keterbukaan Habib Ahmad, Pemimpin Masjid Ba’lawie

Mendung tipis menggelantung di langit Singapura, seakan matahari malu-malu menampakkan cahayanya. Saat rintik gerimis turun itu, sepintas aku melihat kemegahan kota itu sembari tapak kakiku bergegas menuju sebuah masjid nan indah di Melayu itu, namanya Masjid Ba’lawie.

Memang kemarin aku dan istriku berkunjung ke Singapura untuk bersilaturahmi dengan seorang sahabat di sana, Bang Nazarisham. Aku pun tak mau melewatkan kesempatan itu untuk berziarah ke makam Habib Nuh Bin Muhammad Alhabsy serta mampir ke masjid yang fenomenal di Negeri Singa itu.

Masjid Ba’lawie ini dibangun pada tahun 1952 oleh seorang imam keturunan keluarga Alatas (al-Attas). Memang sepintas terlihat masjid ini seperti bangunan masjid pada umumnya, tak ada arsitektur yang mencolok, namun begitu banyak pelancong dari berbagai penjuru dunia kerap mampir ke masjid yang berada di Bukit Timah, Singapura ini.

Keistimewaan masjid ini justru ada pada nilai-nilai luhur yang dilestarikannya. Bahkan Masjid Ba’lawie ini dijuluki sebagai tempat ibadah yang terbuka untuk seluruh umat dengan latar agama apapun. Banyak sudah tokoh agama dari katolik, kristen, hindu, dan lainnya, berkunjung ke mesjid ini.

Aku pun merasakan hal yang luar biasa di sana, aku yang jauh dari negeri seberang begitu hangat dijamu oleh Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Athas, sang pemimpin Masjid Ba’lawie. Aku bahkan merasa bukan orang asing di sini, justru seperti seorang anak yang berjumpa ayah yang dirindukannya. Begitu aku menggambarkan nuansa pertemuanku dengan Habib Ahmad.

Bahkan istriku yang kebetulan tengah berulang tahun, diberi surprise kue ulang tahun oleh Habib Ahmad. Sungguh suasana yang tak kukira bakal dijamu dengan sebegitunya. Wajar memang bila masjid ini begitu harum namanya hingga ke mancanegara.

Obrolan kami kemudian dilanjutkan di meja makan, kami dijamu makan makanan khas melayu. Aku mendengarkan bagaimana toleransi benar-benar dijaga di Singapura. Tentu obrolan ini aku catat sebagai oleh-oleh yang aku bawa pulang ke rumah. Di ujung pertemuan bahkan aku diberikan ijazah Ratib Al-Athas.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga terdengar azan Ashar dari ujung menara. Pertemuan kami pun diakhiri dengan Salat Ashar berjamaah di ruang utama Masjid Ba’lawie. Aku pun secara khusus mengundang Habib Ahmad untuk datang ke Ponpes Al Mizan Jatiwangi bila nanti tengah berkunjung ke Indonesia. Semoga kedatangan beliau nanti mencurahkan keberkahan bagi santri-santri Al Mizan.

Terima kasih untuk Habib Ahmad atas sambutan hangat dan surprise kue ulang tahun untuk istriku. Aku menbawa banyak hal tentang Islam dan nilai-nilai ketimuran dari kunjungan singkatku di Masjid Ba’lawie. Alhamdulillah.

Related Posts