Sarjana Kuburan

Saya tidak menyangka Pak Haji, demikian saya panggil H. Maman Imanul Haq menjadi adik iparku.

Saat kami mondok di Baitul Arqom Lemburawi Ciparay Bandung, ia memang menonjol di antara teman-teman, bukan hanya nilai akademisnya tapi juga kebiasaannya yang unik: jalan kaki untuk ziarahi para Kyai dan Wali.

Jadi tidak aneh, bila akhirnya ia ketemu Sang Maha Sarjana yang suka Ziarah: Gus Dur.

Lewat perjumpaannya dengan Gus Dur, Haji Maman diwisuda jadi Sarkub: Sarjana Kuburan.

Saya ingat betul, saat menikah dengan adikku Hj. Upik Rofikoh, Pak Haji ngajak bulan madu istrinya ke Madrid, eh Madura. Pastinya bukan tuk traveling dan shopping, tapi ziarah ngalap berkah.

Saya jadi saksi bagaimana dua sejoli pengantin baru itu bersimpuh di Makam Syeikh Kholil Bangkalan, 23 tahun yang lalu.

Saya meneteskan air mata saat keduanya makan di pinggir jalan, sepiring berdua. Karena, ” yang sepiringnya untuk sedekah kepada para peziarah agar hidup kami berkah”, ujar Haji Maman.

Pernah ia jalan kaki dari Lemburawi Pacet Bandung menuju Makam Syeikh Muhyiddin Pamijahan Tasik bersama Guru tercintanya Ustadz Omas Mashluh Ahmad.

Sebuah perjalanan yang jadi pembicaraan para santri karena beberapa orang yang ikut serta mengisahkan perjumpaan Haji Maman dengan kyai-kyai kampung yang unik yang memberinya Ijazah doa dan wirid.

Demikian pula kisah menarik H. Maman khatam Quran di Gua Saparwadi dan dimandikan sosok mirip almarhum KH. Khoer Afandi Manonjaya.

Sejak ziarah itu kemampuan mengajarnya meningkat dan disukai para santri.

Ia sering mengisi jam-jam kosong di pesantren, termasuk daurah Bahasa Arab.

Itu pula, menurut almarhum Ayahnya KH. Abdurrachim, yang membuat guru kami almagfurlah KH. Yusuf Salim tidak berkenan, dan menjadi konflik panjang yang berbuntut pengusiran.

Tapi Haji Maman belum mengerti soal itu, semangat dan keberaniannya seakan menutup sensitifitas “su’ul adab” tersebut.

Kyai Ali Imran dan Ustadz Omas Masluh yang justru membimbingnya dengan memberi dukungan dan bimbingan penuh. Ya, mirip dengan Gus Dur yang dibela Kyai Maksum Krapyak dan Kyai Ahmad Sidik saat berbeda pendapat dengan Kyai As’ad Syamsul Arifin.

Sekali lagi, saya melihat hanya karena miskomunikasi dan ketidakmengertian Haji Mamanlah konflik dengan Kyai Yusuf itu terjadi.

Hingga menikah dan merintis Al-Mizan, hubungan Guru dan santri ini belum mencair. Padahal ada kerinduan si Santri pada sosok Guru yang mengajarkan ilmu dan amalan Islam ashlussunah wal jamaah yang khas seperti wiridan, ziarah, muhibbah ulama dan habaib serta kemampuan berbahasa Arab ini.

Untuk mendapatkan Ridho dan sapaan KH. Yusuf, Haji Maman puasa lebih dari setahun dan tirakat di Moga Pemalang dengan mengamalkan Dalail Khairat yang diijazahkan KH. Mudzakir Banyuurip Pekalongan.

Alhamdulillah, Sang Guru mendengar dan menerima “rintihan” santrinya.

Keduanya bertemu. Si Santri bersimpuh mohon maaf. Sang Guru mengusap ubun2 santri kesayangan yang lama menghilang ini.

Puncak kebahagiaan saat Kyai Yusuf Salim berkunjung ke Pesantren Al-Mizan, memberi tausiah dan doa. Keberkahan yang dilanjutkan putera-puterinya dengan program muhibbah.

Gus Dur berkenan mengunjungi Kyai Yusuf setelah Haji Maman cerita kehebatan Gurunya yang “berbobot” dan humoris ini.

Tahun berganti, Sang Fenomenal (setidaknya bagi saya dan para santrinya) saat ini tengah menapaki terjalnya perjuangan menjadi seorang kyai, muballigh, wakil rakyat dan bahkan tokoh yang menasional.

Sebagai sahabat sekaligus kakak, saya yang terus mengamati setidaknya sejak 31 tahun lalu, rasa-rasanya saya tahu betul bagaimana luar dalam, pahit getir rasa kehidupan yang dijalaninya hingga saat ini. Apa yang diraihnya saat ini bukanlah capaian instan. Badai hujan yang telah dilalui semoga membentuknya menjadi pribadi teguh dan istiqomah. Ditambah kehadiran cucu yang lucu-lucu tentu terus membuatnya menyepuh.

Ya, Sang Sarjana Kuburan yang (baru) berusia hampir 50 tahun ini akan terus menyepuh diri, semakin bijak bertindak dan berucap.

Sekali saja (dianggap) salah ucap maka sayalah yang pertama kali panas dingin karena tak tahan dia dibully. Walau ia sendiri tampak tenang dan hanya tersenyum sambil berucap, ” Doakan semoga Allah mengampuni saya bila salah dan menguatkan diri agar istiqomah”.

Oleh Hj. Dede Masyitoh

Exit mobile version